WORLD VISION KINI MENERIMA “PERNIKAHAN” SESAMA JENIS

Dalam suatu tanda zaman yang luar biasa jelas, World Vision cabang Amerika kini akan mempekerjakan “orang-orang Kristen gay yang sudah menikah secara legal” (“World Vision,” Christianity Today, 24 Mar. 2014). World Vision, suatu organisasi “kemanusiaan Kristen,” mendapat lebih dari satu milyar dolar dalam pemasukan pada tahun 2013, dalam misinya untuk “membereskan penyebab-penyebab kemiskinan dan ketidakadilan.” Presiden dari World Vision AS, Richard Stearns, mengatakan bahwa aturan baru ini “membuat kebijakan kita lebih konsisten dengan praktek kita dalam isu-isu kontroversial lainnya.” Dia berharap bahwa mengabaikan isu-isu seperti perceraian/pernikahan kembali, baptisan, gembala-gembala wanita, dan kini “pernikahan sesama jenis,” akan meningkatkan persatuan Kristen. Dia bahkan berani untuk mengklaim bahwa “ini bukan berarti mendukung pernikahan sesama jenis.” Dia mengatakan bahwa World Vision bisa membuat aturan baru seperti ini karena mereka adalah organisasi para-church (organisasi bukan gereja, tetapi yang membantu gereja-gereja), dan tidak bertanggung jawab mengenai isu-isu yang berkaitan dengan doktrin Alkitab dan praktek gereja.

Namun perintah Alkitab seperti dalam Yudas 1:3 dan Roma 16:17 ditujukan kepada semua orang percaya, dan ketaatan kepada perintah-perintah ini tidak dapat dihindari dengan mengklaim berfokus kepada tujuan-tujuan terbatas, seperti keadilan sosial, keluarga, penginjilan masal, atau penciptaan. Masalah dasar di sini adalah bahwa organisasi-organisasi para-church tidak memiliki otoritas dalam Perjanjian Baru. Setiap pelayanan seharusnya berada di bawah pengawasan dan disiplin dari suatu jemaat Perjanjian Baru yang sehat, yang adalah tiang penopang dan dasar kebenaran (1 Tim. 3:15). Lebih jauh lagi, Amanat Agung Kristus tidak menyuruh kita untuk mengubah dunia melalui pekerjaan sosial. Para Rasul dan jemaat-jemaat abad pertama tidak berusaha mengubah kondisi sosial ekonomi dari kerajaan Romawi. Amanat Agung Tuhan tidak terbatas pada satu, dua, atau tiga objektif yang terbatas, seberapa pun bagusnya hal-hal itu dalam diri mereka sendiri. Waktunya sepertinya sudah sangat sempit, dan kebutuhan paling mendesak adalah mendirikan jemaat-jemaat Perjanjian Baru yang sehat yang 100% dipersiapkan untuk memenuhi Amanat Agung Kristus sebagaimana tercantum dalam Matius 28:18-20; Markus 16:15; Lukas 24:44-48; Yohanes 21:15-17; dan Kisah Para Rasul 1:8. World Vision bisa bicara seenaknya tentang bagaimana mereka tidak berkompromi. Orang-orang yang sungguh percaya Alkitab tahu bahwa itu omong kosong. World Vision sendiri adalah penggenapan dari 2 Timotius 4:2-3. Keputusan World Vision juga adalah konsekuensi logis dari kesesatan pengajaran “dalam hal-hal esensial kita bersatu” (dan dalam hal-hal yang “kurang” esensial kita boleh macam-macam). Kita akan menyaksikan lebih banyak lagi orang-orang atau organisasi “Kristen” yang berkompromi dalam hal homoseksualitas ataupun hal-hal lain, karena mereka tidak mengikuti Alkitab dan  melakukan separasi. (Berita Mingguan GITS 29 Maret 2014, sumber: http://www.wayoflife.org)

Advertisements
This entry was posted in ETIKA MORALITAS and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s